Monday, March 8, 2010

LIPUTAN PAMERAN

Persembahan Multi Tafsir Alumni IKJ
Senin, 08 Maret 2010 | 21:03 WIB
Besar Kecil Normal
TEMPO Interaktif, Jakarta -
PINTU kayu bercat putih itu hanya terbuka sejengkal. Dari balik pintu menyembul sepotong tangan mengapit sebuah benda terbuat dari plastik berwarna bening. Tangan itu mengarah ke sebuah tong sampah penuh sesak dengan balon berwarna-warni, bercampur dengan puluhan kondom-benda di tangan sosok ta berwujud itu. Sebagian balon dan kondom itu berceceran di lantai.
Head to Head, Begitu Erwin Utoyo memberi judul. Melalui karya seni yang mengombinasikan media pintu, kayu, balon, dan kondom itu, alumni Studio Seni Patung Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu mengajak setiap orang menerka-nerka apa makna yang tersembul dibaliknya. Setiap orang bebas memberi penafsiran.
Erwin Utoyo dan Head to Head yang dibuatnya pada 2010 ini melengkapi karya-karya seni rekan-rekannya sesama jebolan IKJ yang dipamerkan di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki sejak 5 Maret hingga 14 Maret mendatang. Sejumlah nama terlibat dalam pameran kali ini. Di antaranya Bernauli Pulungan, Hardiman Radjab, Agus Salim, Franky D. Nayoan, Budi L Tobing, Hanung Mahadi, Dolorosa Sinaga, Yani Maryani, Yana, Beni Ronald Tahalele, dan Andi Rharharha.
Pameran yang digelar untuk kesekian kalinya itu bertajuk EXIT, yang secara sederhana diartikan bahwa proses kreatif bergerak secara fleksibel bersama variabel-variabelnya meluncur tanpa terhalangi oleh pikiran bahwa ini serupa yang salah dan ini yang benar. “Transformasi berpikir bertolak dari wadah baru yang fleksibel, tidak kaku, terhindar dari garis tunggal kebenaran,” jelas Franky D. Nayoan.
Maka para perupa itu meluncurkan gagasan-gagasannya dengan bebas. Andi Rharharha misalnya, menghadirkan suasana alam ke dalam ruang pameran. Tak cuma memajang bejana yang masing-masing berisi ulat, ikan, kelabang, lobster, kapas, pasir dan kecambah, dia juga melengkapinya dengan suara gemericik air, jangkrik, kokok ayam jantan, serta deru dan klakson mobil.
“Keinginan pencerahan keluar dari pola dan kerangka bentuk lama, sehingga karya-karya para pematung yang kini mulai kesohor di Indonesia itu patut dinilai berubah dan mengalami inovasi secara transendental,” jelas Teguh Widodo, Kepala badan Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail marzuki.
Nunuy Nurhayati

0 comments: